Wafi on Hiatus
Setelah lebih dari seminggu kemarin sibuk dengan acara mudik berlebaran di kampung halaman, saya dan istri akhirnya balik lagi dan sampai di Jakarta Senin malam. Sad to say, tanpa Wafi. Dari pengamatan keluarga kami di sana, katanya leher Wafi terlalu lemas sehingga kurang bisa menahan kepalanya sendiri saat ditegakkan, padahal usianya sudah hampir lima bulan. Selama seminggu kemarin ia dua kali diurutkan di tukang urut bayi. Alhamdulillah, sudah mulai kelihatan hasilnya.
Lalu Umik mengusulkan agar Wafi ditinggal dulu saja di sana barang sebulan biar bisa teratur diurut. Padahal istriku tidak bisa ikut tinggal karena tiket kereta api buat besoknya sudah terlanjur dipesan. Ia sebetulnya tidak tega meninggalkannya, tapi kasihan juga kalau nantinya sampai terlambat ditangani. Akhirnya istriku setuju mengingat Wafi tidak lagi netek sama mamanya dan ia percaya Wafi sudah ‘mengenal’ Umik dengan baik dan begitu juga sebaliknya.
Tampaknya keputusan itu mudah dibuat, tapi ternyata tidak mudah dijalaninya. Selama di perjalanan balik ke Jakarta hingga tiba, istriku sering menangis karena kangen dan tak tega meninggalkan Wafi. Padahal sebelumnya ia sendiri yang memutuskan bersedia ditinggal. Yah, namanya juga ibu, ikatan batinnya sangat kuat dengan anaknya melebihi siapapun.
Sesampai di Jakarta, kami berdua langsung terserang diare selama 2 hari. Fiuh.. untung Wafi kami tinggal di sana, jadi ia tidak ikut terserang diare. Semoga ia baik-baik di sana bersama Umik dan tujuan kami meninggalkannya sementara di sana tercapai. Amin. Sampai jumpa satu bulan lagi ya, Nak! Kami berdua sangat merindukanmu.

Diana, 10 January 2005, 23:30:
selamat berbulan madu lagi :)