10 Februari

sepanjang malam seseorang mendengar
erangan napas bintang-bintang
lagu melagu menggubah harmonisasi
air jernih yang turun ke daun-daun hijau
melintasi kabut yang sedang bersujud
abaikan dingin yang menggenggam
tangannya tanpa sadar

untuk sedetik dari detik berikutnya
lengkung cakrawala tanggalkan jubah hitamnya
telanjang hadapi hari berani
ajak seluruh alam mencipta senyuman
hingga seluruh matahari kembali memadamkannya

sebuah belukar tangan menengadah
akarnya serabut memeluk bumi
yang tersesat di tengah galaksi
ambangkan serapah serupa do’a
namaku dalam namamu, namamu dalam namaku
gelapku adalah gelapmu, terangku adalah terangmu
kamu aku satu
untuk selamanya

Farid @ Petojo, 03 Februari 2003 23.15 WIB

- dimuat 10 February 2006, 01:23 di puisi



Komentar

Tulis pesan Anda

* tidak akan tampil di website